Minggu, 30 Januari 2011

QUANTUM TEACHING

BAB I
PENDAHULUAN

Agar tercapainya tujuan pendidikan, peran seorang guru amatlah mempengaruhi. Penguasaan terhadap metodologi pengajaran merupakan salah satu persyaratan bagi seorang pendidik yang profesional. Berbagai pakar pendidik seperti Mahmud Yunus pernah mengatakan bahwa penguasaan terhadap metodologi pengajaran jauh lebih penting daripada pemberian materi pelajaran. Pendapatnya ini berdasarkan hasil penelitiannya terhadap lulusan pesantren bahwa dari seratus lulusan pendidikan pesantren ternyata yang jadi kiyai hanya satu orang.Lulusan pesantern yang telah menghabiskan waktu yang cukup lama memang diakui menguasai secara baik dan mendalam terhadap berbagai teori tata bahasa, ilmu nahu dan lain-lain. Namun semua teori kebahasaan yang dikuasai santri itu tidak disertai dengan kemampuan menggunakan berbagai teori tersebut dalam menulis dalam bahasa Arab secara lancar dan benar. Dengan demikian, berbagai ilmunya itu tidak fungsional dan tidak dapat menolong dirinya dalam menjawab berbagai masalah komunikasi dan lainnya.Sehingga berbagai pengetahuannya hanya berfungsi untuk memahami teks Arab.
Alumni pendidikan pesantren berbeda dengan alumni Gontor ponorogo. Alumni darri lembaga ini selain menguasai tata bahasa Arab dengan baik, juga menguasai cara menggunakannya dalam tulisan dan percakapan dengan baik sehingga bahasa Arab yang digunakan dapat membantu mereka memperlancar berkomunikasi dan dapat membangun rasa percaya diri.
Perbedaan lulusan pendidikan pesantren dengan lulusan pondok modern Gontor dalam menguasai bahasa Arab karena perbedaan penggunaan metode. Di pesantren pengajaran bahasa Arab diadakan terpisah-pisah anatara satu dan yang lainnya. Sehingga mengakibatkan mereka tidak dapat menggunakan bahasa Arab dengan baik secara lisan maupun tulisan.
Dari contoh di atas bahwa perbedaan penggunaan metode dalam pengajaran sangat terhadap hasil pendidikan. Kini saatnya, dunia pendidikan Islam berupaya menggunakan metode pengajaran yang lebih mampu menghasilkan lulusan yang terbina secara seimbang antara perkembangan intelektual dan kecerdasan emosional, serta keterampilan dan fisik yang sehat, sehingga terwujudlah generasi rabbani sebagai khalifah dan imarotul ardhi.
Dalam makalah ini penulis mencoba mengkaji tentang quantum teaching dalam persfektif pendidikan Islam.



















BAB II
PEMBAHASAN
QUANTUM TEACHING DALAM PERSFEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

A. Karakteristik Quantum Teaching

Sebelum menelaah Quantum Teaching dalam persfektif pendidikan Islam, maka terlebih dahulu harus memahami apa dan bagaimana karakteristik Quantum Teaching itu sendiri?
Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan , penyajian dan fasilitas supercamp. Diciptakan berdasarkan teori-teori Eccelerated Learning (Lozanov), Multiple Inteligence (Gardner), Neuro-Liungistic Programming (Ginder dan Bandler), Experiental Learning, (Hahn) dan Element of Effective Intruction (Hunter).
QuantumTeachingberusaha mengubah suasana belajar yang monoton dan membosankan ke dalam suasana belajar yang meriah dan gembira dengan memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi siswa menjadi suatu kesatuan kekuatan yang integral.QuantumTeaching berisi prinsip-prinsip sistem perancangan pengajaran yang efektif, efisien, dan progresif berikut metode penyajiannya untuk mendapatkan hasil belajar yang mengagumkan dengan waktu yang sedikit. Dalam prakteknya, model pembelajaran ini bersandar pada asas utama bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkanlah dunia kita ke dunia mereka. Pembelajaran, dengan demikian merupakan kegiatan full content yang melibatkan semua aspek kepribadian siswa (pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh) di samping pengetahuan, sikap, dan keyakinan sebelumnya, serta persepsi masa mendatang. Semua ini harus dikelola sebaik-baiknya, diselaraskan hingga mencapai harmoni (diorkestrasi).
Desain pembelajaran QuantumTeaching bisa terimplementasikan secara menarik dan menyenangkan apabila sejumlah syarat berikut ini terpenuhi, di antaranya:
1) Guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur, jadi pendengar yang baik dan selalu gembira (tersenyum)
2) Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan: “learning is most effective when it’s fun”. “Kegembiraan” berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada diri peserta didik.
3) Lingkungan belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan
4) Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh yang kuat pada proses belajarnya.
5) Sikap guru kepada peserta didik (pengarahan “Apa manfaat materi pelajaran ini bagi peserta didik” dan tujuan

B. Quantum Teaching dalam Pendidikan Islam

Secara eksplisit dalam ilmu pendidikan islam belum dijumpai rumusan teori pengajaran yang mirip dengan Quantum Teaching. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat ilmu pendidikan islam terlambat perkembangannya dibandingkan dengan ilmu-ilmu ke-islaman lainnya seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir, hadits dan sebagainya. Namun demikian ini tidak berarti bahwa prinsip-prinsip quantum teaching dan langkah-langkannya secara umum tidak ada dalam islam. Diyakini bahwa islam sebagai agama universal sangat peduli terhadap pemberdayaan manusia secara menyeluruh melalui pendidikan. Didalam al-Quran dan hadits banyak sekali dijumpai ayat-ayat dan matan-matan hadits yang berkaitan dengan motivasi pemberdayaan manusia.
Motivasi yang demikian itu telah pula ditunjukkan dalam sejarah di abad klasik dari abad ke-7 sampai dengan abad ke-13, yaitu massa kejayaan islam yang ditandai oleh munculnya sejumlah ilmuwan ensiklopedik yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama, melainkan juga ilmu-ilmu umum, seperti matematika,fisika, astronomi, geologi, kedokteran, optika, dan lain sebagainya. Keadaan demikian tidak mungkin terjadi jika tidak ada system pendidikan dan metodologi pengajaran yang beroprasi didalamnya. Namun sayangnya, penelitian terhadap berbagai pemikiran pendidikan islam yang dikemukakan para muslim belum digali secara sungguh-sungguh.
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa didalam quantum teaching terdapat lima prinsip, yaitu: 1) segalanya berbicara, 2) segalanya bertujuan, 3) pengalaman sebelum pemberian nama, 4) akui setiap usaha, dan 5) rayakan jika layak dirayakan. Kelima prinsip yang terdapat dalam quantum teaching terdapat pula dalam ajaran islam. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

1) Bahwa prinsip segala sesuatu itu berbicara sebagaimana yang terdapat dalam quantum teaching juga ada dalam islam. Menurut islam bahwa segala sesuatu memiliki jiwa atau personalitas. Air, udara, tanah, gunung, tumbuh-tumbuhan,binatang, manusia dan lain sebagainya memiliki jiwa dan personalitas. Oleh karenanya semua itu harus diperlakukan secara baik dan diberikan hak hidupnya. Mereka harus dirawat, disayang, dipelihara dan seterusnya, sehingga semuanya itu bersahabat dan memberi manfaat bagi manusia. Berkenaan dengan ini kita jumpai ayat al-Quran:

إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا


“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat langit, bumi dan gunung-gumumg, maka semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”( Q.S. Al-Ahzab, 33 : 72).
Ayat ini menunjukkan adanya pengakuan tehadap eksistensi makhluk lainnya selain manusia.

2) Bahwa prinsip yang ada dalam Quantum Teaching, yaitu bahwa segalanya bertujuan adalah juga ada dalam ajaran islam. Di dalam al-quran terdapat ayat yang artinya :

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran, 3 : 191).

Ayat ini berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang sikap orang-orang yang berakal yang mampu meneliti segala ciptaan Tuhan yang ada dilangit dan dibumi serta dalam pergantian waktu siang dan malam. Dengan berpegang pada prinsip ini, maka seorang yang berakal akan selalu meneliti rahasia, manfaat, hikmah yang terkandung dalam semua ciptaan Tuhan sehingga menemukan berbagai teori dibidang ilmu pengetahuan (sains), juga semakin membawa dirinya dekat dengan Tuhan. Atas dasar ini, maka seluruh ciptaan Tuhan harus digunakan sebagai media untuk meningkatkan pengetahuan.

3) Bahwa prinsip memberikan pengalaman sebelum pemberian nama sebagaimana terdapat dalam quantum teaching, juga sejalan dengan prinsip yang ada dalam ajaran islam. Dalam ajaran islam seseorang terlebih dahulu disuruh percaya kepada Allah, mengucapkan dua kalimah syahadat, melaksanakan shalat, membaca al-Quran dan mempraktekkan ajaran islam lainnya. Laksanakan dahulu semuanya itu, baru kemudian bertanya mengapa semuanya itu harus dilakukan. Dalam contoh mengajarkan al-Quran, Nabi Muhammad SAW langsung disuruh membaca ayat yang dibawa oleh jibril atas perintah Allah, yaitu surat al-Alaq ayat 1 sampai dengan ayat 5.
Setelah itu baru Nabi memahami ayat-ayat tersebut.Dalam kaitan ini maka metode mengajar membaca al-Quran hendaknya dimulai langsung anak-anak mengulangi dan menirukan lafal ayat-ayat yang dibacakan oleh guru, dengan bacaan yang benar dan baik.Setelah itu baru diberikan penjelasan terhadap sesuatu yang sudah dikuasai oleh si anak lebih mantap dalam pengajaran, dari pada lebih dahulu mengemukakan teori yang sulit-sulit baru kemudian mempraktekkannya.

4) Bahwa prinsip yang terdapat dalam quantum teaching yaitu akui setiap usaha juga sesuai dengan prinsip yang terdapat dalam ajaran islam. Didalam ajaran islam terdapat predikat yang diberikan kepada seseorang yang dasarkan pada usahanya.
Misalnya, bagi orang yang mempercayai rukun iman dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya disebut mukmin. Bagi yang melaksanakan ajaran islam disebut muslim. Untuk orang yang bertaqwa disebut muttaqin.Bagi orang yang berbuat baik disebut muhsini dan seterusnya.Berbagai predikat yang demikian itu menunjukkannya.
Dengan cara demikian, maka eksistensi, usaha kepada kepuasan psikologis yang pada gilirannya akan menimbulkan etos kerja yang semakin meningkat.

5) Bahwa prinsip rayakan jika layak dirayakan sebagaimana terdapat dalam quantum teaching juga terdapat dalam ajaran islam. Prinsip ini sejalan dengan adanya berbagai upacara tradisi yang ada dalam islam, seperti tradisi pemberian nama yang baik pada anak, menyembelih hewan aqiqah untuknya dan menikahkannya jika sudah dewasa, adalah merupakan upaya perayaan yang didalamnya mengandung unsur pengakuan terhadap keberadaan seseorang ditengah-tengah masyarakat.

Selanjutnya langkah-langkah dalam Quantum Teaching yang mampu menggairahkan suasana belajar mengajar yang terdapat dalam istilah tandur sebagaimana telah dijelaskan di atas juga sejalan dengan ajaran islam. Langkah –langkahynayaitu :
1) Tumbuhkan minat. Hal ini sejalan dengan adanya niat dan tujuan yang harus ditanamkan sebelum melakukan suatu pekerjaan, yaitu niat ikhlas semata-mata karena Allah. ( Lihat Q.S. Al-Bayyinah, 98 : 5).

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

2) Alami, yaitu memberikan pengalaman pada seseorang untuk melakukan pekerjaan. Hal ini sejalan dengan pendidikan akhlak dan sopan santun yang harus dilakukan dengan membiasakan, seperti membiasakan berkata yang baik, menghormati kedua orang tua, mengerjakan shalat, menolong orang lain dan seterusnya.

3) Namai, yaitu berikan identitas atau nama bagi sesuatu yang ditemukan. Hal ini sejalan dengan apa yang di ajarkan Tuhan kepada Nabi Adam mengenai nama-nama yang ada di alam ini, setelah Nabi Adam mengalaminya. (Lihat Q.AS. Al-Baqarah. 2 : 31).
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"

4) Mendemonstrasikan, yakni menunjukkan apa yang telah dihasilkan. Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan Nabi Adam dihadapan para Malaikat, ketika ia diminta oleh Tuhan untuk mendemontrasikan hasil didikan-Nya dihadapan para Malaikat. (Lihat Q.S. al-Baqarah, 2:32).

قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

5) Ulangi, yakni tunjukkan apa yang telah diajarkan oleh guru agar betul-betul terlihat hasilnya dan lebih mantap. Hal ini sejalan dengan ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang sesuatu yang diulang-ulang dalam, berbagai tempat dengan tujuan agar lebih mantap.

6) Rayakan, yakni berikan pengakuan. Hal ini sejalan dengan prinsip pemberian predikat kepada orang-orang sesuai dengan usahanya, sebagaimana telah dijelaskan diatas .

C. Quantum Teaching dalam Pendidikan di Madrasah /Pondok Pesantren

Sebagaimana telah dipahami bahwa Quantum Teaching bertujuan mencetak peserta didik yang tidak hanya memiliki keterampilan akademis tetapi juga memiliki keterampilan hidup.Maka metode Quantum Teaching ini sangat tepat jika diterapkan dalam system pendidikan madrasah dalam rangka mencapai loncatan kualitas siswa/santri. Jika dilihat dari segi lingkungan bahwa pendidikan pesantren yang berada dalam satu komplek, dimana siswa belajar dan tinggal tidak terpisah dari lingkungan sekolah maka akan sangat kondusif jika diterapkan metode Quantum Teaching dalam system pendidikannya. Pesantren selama ini dikenal dengan system yang sangat kaku,monoton dan kurang memberikan kebebasan pada siswa berargumentasi sehingga kualitas lulusan yang dihasilkan tidak dapat bersaing dalam kehidupan karena penguasaan ilmu tidak diiringi pengembangan potensi dan kreativitas para santri.
Dengan demikian menerapkan metode Quantum Teaching akan merubah pola pembelajaran sehingga membuat santri lebih terrkesan dan menyenangkan. Maka pendidikan akan menghasilkan lulusan yang bermutu dan berkualitas. Quantum teaching merupakan metode yang menawarkan sebuah proses pembelajaran yang mengubah bermacam-macam intraksi yang ada di dalam dan di sekitar momen santri/siswa .yang mana interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar efektif yang mempengaruhi keberhasilan dan mengembangkan bakat mereka. Seperti dilihat dalam menata konteks “segalanya berbicara” .setiap detail menggambarkan sesuatu tentang diri dan sikap terhadap belajar mengajar. Lingkungan kelas dan lingkungan pesantren bertaburan isyarat dan secara sadar atau tidak santri mengikuti syarat-syarat tersebut seehingga semua isyarat itu mewarnai pengharapan siswa dan pada akhirnya membangun pengalaman belajar santri.

D. Quantum Teaching dalam Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum
Dalam pelaksanaan Pendidikan Islam baik di Pesantren, Sekolah Islam maupun sekolah umum, tujuan utamanya adalah membentuk pribadi muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, memiliki etos kerja di masyarakat. Namun jika dilihat Pendidikan Agama Islam di sekolah umum hanya sekedar melengkapi standar kurikulum saja. Pengalaman belajar siswa dalam bidang studi PAI ini tidak memadai untuk mencapai tujuan pendidikan islam. Hal ini karena beberapa factor yaitu sedikitnya waktu dan kurang menariknya pelajaran ini bagi siswa. Untuk itu usaha sadar yang dilakukan guru pendidikan Agama Islam adalah menerapkan metode Quantum Teaching yang mana dengan prinsip-prinsip dalam quantum teaching tersebut akan merubah segalanya ke arah yang lebih baik karena siswa akan senang dan menikmati pembelajaran.

BAB III
PENUTUP
Dari uraian tentang Quantun Teaching diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut:
Quantum teaching yang merupakan metode pengajaran mutakhir adalah memadukan dan menyempurnakan metode pengajaran yang telah ada sebelumnya.
Dalam Quantun Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan penciptaan lingkungan kelas yang menyenangkan, siswa akan memperoleh suatu penguat (reinforcer) dan akan mampu membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.
Dalam pembelajaran Quantun Teaching, murid akan lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri. Penerapan pembelajaran Quantun Teaching akan menjadikan interaksi-interaksi yang menggubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka dan orang lain.
.Di dalam Quantun Teaching, proses belajar siswa dimulai/beranjak dari informasi atau sesuatu yang telah ada atau diketahui siswa sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka peajari.
Meskipun secara eksplisit belum ada sarjana Muslim yang mengembangkan metode quantum teaching ini namun dalam dalam al-Qur’an dan Hadits terdapat petunjuk-petunjuk umum yang memungkinkan metode Quantum Teaching tersebut dapat dikembangkan.
Dalam menghasilkan lulusan pendidikan Islam yang terbina seluruh potensinya serta memiliki rasa percaya diri, kreatif,inovatif, kritis dan demokratis, kini sudah saatnya para guru yang mengajar di madrasah-madrasah, sekolah Islam dan Perguruan Tinggi menggunakan metode ini. Dengan demikian maka lulusan pendidikan Islam mampu bersaing dalam era globalisasi yang mulai menerpa seluruh kehidupan bangsa Indonesia, khususnya umat Islam
DAFTAR PUSTAKA

Yunus, Muhammad, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta : Yayasan al-Hidayah,1965
Nata, Abuddin Manajemen Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2003
DePorter, Bobbi, dkk, Quantum Teaching, Bandung : Kaifa,2003
Hartono, dkk. PAIKEM, : Pekanbaru : Zanafa, 2008.
Masyhud, Sulthon dan M. Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren, Diva Pustaka, Jakarta, 2004
Ismail Thoib, Wacana Baru Pendidikan, Genta Press,Yogyakarta, 2008

Dawan, Ainurrafiq dan Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren, Listafariska Putra, 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar