Kamis, 02 Mei 2013

KREATIFITAS GURU

-->
1. Defenisi Kreativitas
Kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda. Sedemikian beragam definisi itu, sehingga pengertian kreativitas bergantung pada bagaimana pandangan orang yang mendefinisikannya. Dalam kamus Bahasa Indonesia [1], kreativitas berarti daya cipta atau kemajuan mencipta. Dalam hal ini kreativitas lebih diartikan pada kemampuan membuat gabungan atau kombinasi-kombinasi baru dari unsur-unsur yang telah ada sebelumnya, sekalipun dalam bentuk sederhana.
Sedangkan menurut Drevdahl kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi,produk atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintetis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Ia mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. Ia harus mempunyai maksud atau tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata, walaupunmerupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Ia mungkin dapat berbentuk produk seni, kesusateraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural atau metodologis. [2]
Sedangkan menurut Baron, kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan / menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial. Sedangkan kesimpulan para ahli mengenai kreativitas dalam adalah [3]:
1. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada.
2. Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia – menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di mana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban.
3. Jadi, secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisionalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan.
Berdasarkan uraian pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan proses yang mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru, dan berbeda dimana dalam mencipta bergantung pada perolehan pengetahuan yang diterima dan yang mempunyai tujuan yang mendatangkan keuntungan bagi orang itu sendiri atau kelompok sosialnya.
2.Defenisi Mengajar
Menurut Muhamad Ali , mengajar merupakan suatu proses yang komplek, tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa (Ali, 1983: 11). Secara global mengajar bisa dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Mengajar menurut faham lama atau kuno
Guru senantiasa aktif menyampaikan dan memompakan informasi atau fakta-fakta agar dikuasai, siswa-siswa sendiri hanya menerima atau pasif dan menganggap siswanya sebuah wadah kosong yang harus diisi pengetahuan,kegiatan belajar mengajar harus didomonasi oleh guru.
b. Mengajar menurut faham baru atau modern
Guru sebagai pengelola, pengatur, peracik lingkungan berupa tujuan, materi, metode dan alat dengan siswa, siswa harus aktif. Jadi pengertian kreativitas mengajar adalah guru senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran dan mampu menciptakan suasana yang menarik dan bisa memodofikasi pembelajaran dan akan selalu menciptakan iklim yang segar dan kondusif bagi anak didiknya agar mereka memiliki kemerdekaan, keberanian dan percaya diri untuk menyampaikan ide, gagasan, pemikiran dan pendapat mengenai pemahaman suatu materi pelajaran (KBBI,1991:530). Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah:
1) Daya serap terhadap bahan pengajaran sosiologi yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
2) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran instruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok.
Tingkat keberhasilan mengajar adalah sebagai berikut:
1) Maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasaioleh siswa.
2) Baik sekali atau optimal apabila sebagian besar (76% s.d 99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
3) Baik minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60% s.d 75% saja dikuasai oleh siswa.
4) Kurang: Apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai olehsiswa.
3.Defenisi prestasi belajar
Menurut Suharsimi Arikunto prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh siswa setelah berinteraksi dengan lingkungan sehingga menghasilkan tingkah laku baru yang relatif permanen. Hasil yang dicapai itu digambarkan dengan lambang angka (nilai) yang diperoleh dari tes hasil belajar. Tes hasil belajar ini dibuat untuk menentukan tingkat pengetahuan dan keterampilan dalam penguasaan materi yang telah diajarkan. [4]
Benyamin S. Bloom dkk (dalam Saifuddin Anwar,) membagi kawasan prestasi belajar yang disebut tujuan pendidikan menjadi tiga bagian yaitu : kawasan kognitif, kawasan afektif, dan kawasan psikomotorik. Dalam proses belajar, ketiga ranah ini berlangsung secara simultan, namun dapat diidentifikasikan dan memiliki bobot yang berbeda-beda berdasarkan tujuan yang ditetapkan. [5]
4.Hubungan kreatifitas dan prestasi belajar
Kreativitas merupakan faktor psikologis yang bersifat non intelektual, mempunyai peranan penting dan unik sebagai jiwanya perkembangan atau perubahan dan kemajuan belajar siswa. Dalam suasana belajar yang kompetitif tanpa kreativitas maka seorang siswa akan tertinggal dari siswa- siswa lain yang mampu mengembangkan kreativitasnya.
Kegiatan pembelajaran di sekolah berorientasi kepada pencapaian prestasi belajar akademik yang tinggi oleh semua siswa sangat ditentukan dari peranan seorang guru. Bila guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kreatif, tentu Kreativitas siswa memperoleh peluang untuk berkembang di dalam iklim belajar pembelajaran yang kondusif. Maka tentu saja prestasi belajar yang tinggi dapat dicapai. Kreativitas menentukan prestasi siswa. Misalnya, seorang siswa akan membuat tempat pensil dari bahan kardus bekas, siswa yang mampu membuat tempat pensil dengan memilih bahan kertas kardus yang berwarna / bercorak dan mampu mengkombinasikan antara kertas kardus lapisan yang rata dengan lapisan bergelombang, serta bentuk tempat pensil yang berbentuk kotak akan lebih mendapatkan prestasi yang tinggi daripada siswa yang hanya mampu membuat tempat pensil dari kertas kardus yang berwarna coklat dan berlapis rata serta berbentuk tabung.Maka sangatlah jelas, bahwa kreatifitas sangat erat kaitannya dengan prestasi belajar siswa.
5. Ciri-ciri Kepribadian Guru Kreatif
Tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah mengusahakan suatu hubungan di mana setiap anak didik diberi kesempatan untuk mewujudkan bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga ia dapat mewujudkan dirinya dan kebutuhan masyarakat (Munandar, 1988: 23). Selanjutnya dikatakan bahwa untuk menunjang tujuan tersebut maka dibutuhkan pribadi guru yang kreatif. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Salah satu aspek kreativitas adalah kepribadian (personality) . Aspek ini penting dipahami sebagai dasar dalam memberikan perlakuan yang sesuai kepada seseorang untuk mengembangkan kreativitasnya. Upaya mengembangkan iklim yang kondusif bagi perkembangan kreativitas, hanya mungkin terjadi apabila dipahami lebih dahulu sifat-sifat kemampuan kreatif dan iklim lingkungan yang mengelilingi. Supriyadi menyatakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dibedakan ke dalam ciri kognitif dan ciri non kognitif,yaitu: [6]
a. Ciri kemampuan berpikir kreatif ada lima, yaitu :
1. Keterampilan berpikir lancar (fluency), yaitu mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah dan pertanyaan, memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal serta selalumemikirkan lebih dari satu jawaban.
2. Keterampilan berpikir luwes (flexibility), yaitu menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda, serta mampu mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
3. Keterampilan berpikir orisinal (originality), yaitu mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri serta mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4. Keterampilan merinci atau penguraian (elaboration), yaitu mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk, dan menambahkan atau merinci secra detail dari suatu obyek, gagasan atau situasi sehingga lebih menarik.
5. Keterampilan perumusan kembali (redefinition), yaitu menentukan apakah suatu pertanyaan benar, suatu rencana sehat, atau suatu tindakan bijaksana, mampu mengambil keputusan terhadap situasi yang terbuka, serta tidak hanya mencetuskan gagasan tetapi juga melakukan.
b. Ciri-ciri menyangkut sikap dan perasaan seseorang atau afektif, antara lain adalah :
1. Rasa ingin tahu, meliputi suatu dorongan untuk mengetahui lebih banyak, mengajukan benyak pertanyaan, selalu memperhatikan orang lain, obyek dan situasi serta peka dalam pengamatan dan ingin mengetahui dan meneliti.
2. Bersifat imaginatif, meliputi kemampuan untuk memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi, dan menggunakn khayalan tetapi mengetahui perbedaan antara khayalan dan kenyataan.
3. Merasa tergantung oleh kemajemukan, meliputi dorongan untuk mengatasi yang sulit, merasa tertantang oleh situasi-situasi yang rumit serta lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit.
4. Sikap berani mengambil resiko, meliputi keberanian memberikan jawaban belum tentu benar, tidak takut gagal, atau mendapat kritik serta tidak menjadi ragu-ragu karena ketidak jelasan hal-hal yang tidak konvensional, atau yang kurang terstruktur.
5. Sikap menghargai, meliputi tindakan dapat menghargai bimbingan dan makna dalam hidup, serta menghargai kemampuan dan bakat-bakat sendiri yang sedang berkembang.
Adapun ciri-ciri kepribadian guru yang kreatif yaitu ketika mengajar bisa dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Guru dalam megajar menggunakan alat dan media pengajaran.
Penggunaan media dan alat-alat pelajaran dapat membantu siswa –siswa yang mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Anak yang kemampuan berfikir abstraknya kurang dapat dibantu dengan alat peraga yang konkrit, anak yang pendengarannya kurang dapat dibantu dengan penglihatan. Adapun teknik penggunaan media belajar meliputi:
1) Pengaturan tempat duduk dapat diatur secara fleksibel untuk keperluan diskusi, kelompok.
2) Menjadikan ruang kelas sebagai ruang sumber yang mengundang para siswa untuk membaca, menjajaki dan meneliti, misal dipasang gambargambar, alat-alat peraga yang sesuai.
3) Diciptakan Ruang kelas yang santai, tenang dan menyenangkan.
b. Persiapan guru dalam kegiatan belajar mengajar
1) Menyusun Satpel
2) Mempersiapkan media atau peraga yang dibutuhkan
3) Menguasai materi pembelajaran yang akan disajikan kepada siswa
4) Menyusun dan mempersiapkan evaluasi pengajaran
c. Guru memberikan layanan pembelajaran
Perilaku guru dalam layanan pembelajaran meliputi:
1) Guru berperan sebagai fasilitator yaitu guru mempunyai tugas untuk mengembangkan ide atau inisiatif.
2) Guru memberikan rangsangan dan dukungan dalam kontek yang tepat dan tidak cepat memberikan kritik.
3) Gagasan-gagasan baru dari siswa harus diterima secara terbuka dan berusaha untuk memahami.
4) Semua siswa harus disikapi dan diberi perilaku secara adil tidak memuji siswa tertentu dan menolak siswa yang lain.
d. Guru dalam mengajar menggunakan metode atau setrategi belajar mengajar yang bervariasi
Sebagai seorang pengajar sejati akan selalu berusaha untuk mengajar sebaik mungkin demi keberhasilan tugas kadang-kadang pengajar harus berani mengadakan perubahan-perubahan dalam cara kerjanya dan kreativitas mengajar guru harus diperhatikan dan dikembangkan karena sangat penting dalam proses belajar mengajar. Dengan mengajar kreatif mungkin siswa bisa memahami dan mengerti pelajaran sosiologi.
6. Perbedaaan Mengajar Biasa Dengan Mengajar Kreatif
a. Mengajar Biasa
1) Guru hanya menyuruh anak untuk menghafal.
Guru mengutamakan latihan dan menghafal fakta-fakta yang diharapkan akan keluar pada ujian sehingga akan mengabaikan minat siswa serta akan menimbulkan bahaya verbalisme, hafalan, fakta-fakta tanpa pemahaman.
2) Guru hanya menggunakan satu metode ketika mengajar
Guru hanya menggunakan metode ceramah ketika mengajar sehingga siswa hanya mendengarkan paparan dari guru, siswa hanya bersifat pasif dan hanya sebagai pihak pendengar.
3) Guru tidak Menggunakan Media Yang Ada.
Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.Padahal di sini media memegang peranan yang sangat penting yaitu untuk meningkatkan persepsi siswa, untuk meningkatkan pengalihan belajar dan untuk meningkatkan ingatan siswa.
b. Mengajar Kreatif
1) Guru dalam mengajar tidak terpancang pada satu sumber belajar, guru mencari bahan atau sumber yang lain dan penjelasan menggunakan pemikiran guru bisa menggunakan contoh, gambar atau siswa bisa memahami, guru juga bisa menggunakan kata-kata yang lucu dan bisa menciptakan suasana yang santai agar siswa tidak tegang dan bosan.
2) Guru bisa mengusahakan variasi dalam mengajar, untuk itu pengajar hanya keberanian serta bakat untuk mengorganisir jam pelajaran selingan-selingan yang kiranya bisa dilakukan antara lain misalnya variasi gaya mengajar, variasi media mengajar, dan variasi lain.
a. Variasi Dalam Gaya Mengajar
Variasi ini pada dasarnya meliputi variasi suara, variasi gerakan anggota badan dan variasi perpindahan posisi guru dalam kelas. Perilaku guru seperti itu dalam proses belajar mengajar akan menjadi dinamis dan mempertinggi komunikasi antara guru dan anak didik, menarik perhatian anak didik, menolong penerimaan bahan pelajaran. Variasi dalam gaya mengajar adalah sebagai berikut:
(a) Variasi suara : Suara guru dapat bervariasi dalam intonasi, nada, volume dan kecepatan.
(b) Variasi Penekanan : Guru dapat menggunakan penekanan secara verbal misalnya perhatikan baikbaik, nah ini adalah bagian yang sukar, dengarkan baik-baik. Penekanan itu biasanya dikombinasikan dengan gerakan anggota badan yang dapat menunjuk dengan jari atau memberi tanda pada papan tulis.
(c) Variasi Waktu : Untuk menarik perhatian anak didik, dapat dilakukan dengan mengubah yang bersuara menjadi sepi dari suatu kegiatan tanpa kegiatan.
(d) Variasi Kontak Pandang : Bila guru berbicara atau berinteraksi dengan anak didik, guru mengarahkan pandangannya ke seluruh kelas, menatap mata setiap anak didik untuk dapat membentuk hubungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian.
(e) Variasi Gerakan Anggota Badan : Variasi dalam mimik, gerakan kepala atau badan merupakan bagian yang penting dalam komunikasi.
b) Variasi Media Ajaran
Tiap anak didik mempunyai kemampuan indra yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatan. Ada dua komponen dalam variasi penggunaan media yaitu media pandangan dan media dengar.
(a) Variasi Media Pandang : Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai penggunaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi seperti buku, majalah, globe, peta, mading, film, televisi, radio, model, demonstrasi.
(b) Variasi Media Dengar : Variasi ini memerlukan sekali saling bergantian atau kombinasi dengan media pandangan dan media taktil diantaranya adalah pembicaraan anak didik rekaman bunyi dan suara, rekaman musik, rekaman drama, wawancara bahkan rekaman ikan lumba-lumba dapat memiliki relevansi dengan pelajaran.
Ada beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar adalah sebagai berikut:
a) Dalam menggunakan ketrampilan variasi, semua jenis variasi digunakan, selain juga harus ada penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi.
b) Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan, sehingga moment proses belajar mengajar yang utuh tidak rusak, perhatian anak didik dan proses belajar tidak terganggu.
c) Penggunaaan komponen variasi benar-benar terstruktur dan direncanakan oleh guru, karena itu memerlukan penggunaan yang luwes.
3) Guru menggunakan metode yang serasi dan menggunakan dua metode atau lebih ketika mengajar. Guru yang kreatif berusaha untuk memilih metode yang serasi dan juga sedapat mungkin diselingi yang baru sehingga murid merasakan adanya kesegaran ketika menerima pelajaran di dalam kelas, terhindar dari rasa bosan dan mengantuk, bahkan pelajaran akan dirasakan tidak sulit dan disenangi karena adanya harmonisasi di dalam pemakaian metode. Seorang guru yang baik dalam menyajikan suatu mata pelajaran dan apa bila dia memang cukup paham dalam pembelajaran serta apabila dia yang cukup kreatif maka dia tidak hanya membawakan satu macam metode saja dalam pelaksanaan memberikan pelajaran di dalam kelas. Tetapi dalam satu jam pelajaran dia dapat mempraktekkan 2, 3 atau lebih metode secara berselingan misalnya pada satu jam pertama menggunakan metode ceramah, metode diskusi, metode tanya jawab, dan pada pertemuan selanjutnya menggunakan metode demonstrasi, metode tugas dan metode resitasi. Jadi guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu metode tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan tetapi bisa menarik perhatian anak didik.
7. Pengaruh Kreativitas Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa
Mengajar adalah suatu perbuatan yang kompleks, disebut kompleks karena dituntut dari guru kemampuan personil, profesional, dan sosial kultural secara terpadu dalam proses belajar mengajar. Dikatakan kompleks karena dituntut dari guru tersebut integrasi penguasaan materi dan metode, teori dan praktek dalam interaksi siswa. Dikatakan kompleks karena sekaligus mengandung unsur seni, ilmu, teknologi, pilihan nilai dan keterampilan dalam proses belajarmengajar.
Dalam proses belajar mengajar sesuai dengan perkembangannya guru tidak hanya berperan untuk memberikan informasi terhadap siswa, tetapi lebih jauh guru dapat berperan sebagai perencana, pengatur dan pendorong siswa agar dapat belajar secara efektif dan peran berikutnya adalah mengevaluasi dari keseluruhan proses belajar mengajar. Jadi dalam situasi dan kondisi bagaimanapun guru dalam mewujudkan proses belajar mengajar tidak terlepasdari aspek perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi karena guru yang baik harus mampu berperan sebagai planner, organisator, motivator dan evaluator.
Dari uraian diatas jelas bahwa dalam proses belajar mengajar diperlukan guru-guru yang profesional dan paling tidak memiliki tiga kemampuan yaitu kemampuan membantu siswa belajar efektif sehingga mampu mencapai prestasi belajar yang optimal, kemampuan menjadi penghubung kebudayaan masyarakat yang aktif dan kreatif serta fungsional dan pada akhirnya harus memiliki kemampuan menjadi pendorong pengembangan organisasi sekolah dan profesi. Dengan kemampuan ini diharapkan guru lebih kreatif dalam proses belajar mengajarnya.
Ada beberapa syarat untuk menjadi guru yang kreatif sebagaimana yang dikemukakan oleh munandar yaitu [7]:
1. profesional, yaitu sudah berpengalaman mengajar, menguasai berbagai teknik dan model belajar mengajar, bijaksana dan kreatif mencari berbagai cara, mempunyai kemampuan mengelola kegiatan belajar secara individual dan kelompok, disamping secara klasikal, mengutamakan standar prestasi yang tinggi dalam setiap kesempatan, menguasai berbagai teknik dan model penelitian.
2. memiliki kepribadian, antara lain : bersikap terbuka terhadap hal-hal baru, peka terhadap perkembangan anak, mempunyai pertimbangan luas dan dalam, penuh perhatian, mempunyai sifat toleransi, mempunyai kreativitas yang tinggi, bersikap ingin tahu.
3. menjalin hubungan sosial, antara lain : suka dan pandai bergaul dengan anak berbakat dengan segala keresahannya dan memahami anak tersebut, dapat menyesuaikan diri, mudah bergaul dan mampu memahami dengan cepat tingkah laku orang lain.
Apabila syarat diatas terpenuhi maka sangatlah mungkin ia akan menjadiguru yang kreatif, sehingga mampu mendorong siswa belajar secara aktif dalam proses belajar mengajar. Dan akan sejalan dengan itu semua, tentu prestasi belajar pun akan semakin cemerlang jika guru benar-benar kreatif.
Dari uraian diatas, jelas bahwa peranan guru kreatif sangat berpengaruh.Terlebih dewasa ini. Pada zaman sekarang ini , guru yang kreatif sangat dibutuhkan agar proses pembelajaran dan tujuan yang telah dirumuskan dapat terwujud sesuai perencanaan. Bila guru benar-benar mengajar dengan penuh tanggung jawab dan kreatifitas tentu ini akan sangat menunjang keberhasilan prestasi belajar siswa dan bangsa ini.
8.Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas
Kreativitas dapat ditumbuhkembangkan melalui suatu proses yang terdiri dari beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya. kreativitas secara umum dipengaruhi kemunculannya oleh adanya berbagai kemampuan yangdimiliki, sikap dan minat yang positif dan tinggi terhadap bidang pekerjaanyang ditekuni, serta kecakapan melaksanakan tugas-tugas. Tumbuhnya kreativitas di kalangan guru dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya:
a. Iklim kerja yang memungkinkan para guru meningkatkan pengetahuan dankecakapan dalam melaksanakan tugas
b. Kerjasama yang cukup baik antara berbagai personel pendidikan dalammemecahkan permasalahan yang dihadapi
c. Pemberian penghargaan dan dorongan semangat terhadap setiap upaya yangbersifat positif bagi para guru untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
d. Perbedaan status yang tidak terlalu tajam di antara personel sekolah sehingga memungkinkan terjalinnya hubungan manusiawi yang lebih harmonis.
e. Pemberian kepercayaan kepada para guru untuk meningkatkan diri dan mempertunjukkan karya dan gagasan kreatifnya.
f. Menimpakan kewenangan yang cukup besar kepada para guru dalam melaksanakan tugas dan memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas
g. Pemberian kesempatan kepada para guru untuk ambil bagian dalam merumuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang merupakan bagian dalam merumuskan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan di sekolah yang bersangkutan, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan hasil belajar.

1.Kesimpulan
v Kreativitas merupakan proses yang mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru, dan berbeda dimana dalam mencipta bergantung pada perolehan pengetahuan yang diterima dan memiliki suatu tujuan.
v Yang dimaksud kreativitas mengajar guru adalah kemampuan guru yang senantiasa mengembangkan bahan atau materi pelajaran dan mampu menciptakan suasana yang menarik dan tenang serta bisa memodifikasi pelajaran. Yang menunjukkan kreativitas guru dalam dalam mengajar meliputi:
a. Persiapan guru dalam kegiatan belajar mengajar
b. Metode dan teknik pembelajaran kretif
c. Variasi gaya mengajar guru
d. Penyampaian materi pelajaran
e. Teknik penggunaan media belajar
f. Perilaku guru dalam layanan pembelajaran
v Kreatifitas guru dalam mengajar memiliki pengaruh yang bagi keberhasilan prestasi belajar siswa.
v Kreatifitas guru dalam mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor, baik itu faktor intern maupun faktor ekstern.
2. Saran
1. Hendaknya guru lebih meningkatkan kreativitas mengajar . Dengan kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Pemerintah hendaknya lebih meningkatkan kualitas guru agar lebih kreatif dan berkualitas lagi sehingga negara kita bisa bersaing dengan negara maju karena bangsa kita mempunyai generasi penerus yang bisa diandalkan.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Saifudin Anwar. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Jakarat : PT Bina Aksara
Suryabrata Sumadi. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Press.
Mustaqim,” Psikologi Pendidikan “ Jakarta : Rineke Cipta, 1991.
Suharsimi Arikunto. 1990.Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bina Aksara.
Munandar S.C. Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.



[1] Poerwadarminta W.J.S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : PN BalaiPustaka :526
[2] Elizabeth B. Hurlock. 2004. Psikologi Perkembangan. Jakarta : PT Gelora Aksara Pratama : 4
[3] Munandar S.C. Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama: 28
[4] Suharsimi Arikunto. 1990.Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.1990, Jakarta : Bina Aksara, hlm.141
[5] Saifudin Anwar. 2000. Belajar dan Pembelajaran. 2000Jakarta : PT Bina Aksara, hlm. 8
[6] Supriadi Dedi. 1997. Kreativitas, Kebudayaan, dan Pengembangan Iptek. Bandung : PT Alfabeta: 7
[7] Munandar (1985:67)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar